Coba Berhenti Sekali Aja

Image
Tidak Ada batasan I Have my Own Timeline And You Have Yours di umur yang sekarang, seberapa sering ngebandingin hidup sendiri sama kehidupan orang lain? mau sampai kapan kita terus terperangkap dalam jebakan-jebakan hubungan sosial macam ini ga capek, selalu menjadi variabel dependen dalam penelitian kuantitatif untuk dibeberkan perbandingan-perbandingannya? Please STOP! kita lahir di waktu dan tempat yang berbeda kelak, kita mati di waktu dan tempat yang berbeda pula kalo sama? its just a part of the art of life soal proses, kita punya cara dan jalan masing-masing Ketika ada yang sukses dan ingin mencapai titik kesuksesan yang sama, kita berada pada titik start yang berbeda, maka prosesnya juga beda, step by stepnya, mile stonenya, and others Menjalani hidup sebagai orang dewasa memang tidak mudah, lebih mudah melihat orang lain daripada menjalani kehidupan sendiri, rasanya. Tulisan ini masih akan berlanjut, I'll be back for my self and you can read it or share to others

Letter | Surat dari si Bodoh yang Terhina

Kamu bilang apa? Aku bodoh, baiklah mungkin memang benar begitu keadaannya, akupun merasa demikian.

Selama ini aku memang bodoh, jangankan mengerti apa yang kau bicarakan arahnya sajapun aku tidak tahu kemana. Dan sepertinya kaupun tidak membiarkanku masuk dalam ruanganmu, aku terlalu hina untuk bisa disamakan denganmu.

Aku bodoh
Aku hina
Aku payah

Wahai orang yang merasa dirinya pintar, apakah kau lupa dulu kita sama-sama terlahir bodoh hanya saja aku memang tidak bisa berbuat banyak sehingga masih bodoh hingga saat ini.

Semua cacian dan makianmu kepadaku aku terima saja, sangat payah untuk aku bisa berkata-kata di depan rupamu itu. Hmhh tak mungkin juga rasanya bukan kau mau mendengarkan ocehan diriku yang bodoh ini. Apa kata dunia jika orang pintar harus mendengarkan orang yang bodoh seperti diriku ini.

Sebenarnya ingin sekali aku membungkam mulut kejimu itu. Tapi aku tidak sebodoh itu kawan.

Tapi apakah tidak pernah kau berempati kepadaku?
Ikut merasakan apa yang aku rasa?
Sama-sama berpikir bagaimana menjadi diriku?

Terimakasih orang pintar, kamu mampu menyadarkanku bahwa menjadi orang bodoh itu tidaklah enak, menyesakkan dan menyedihkan. Tapi menjadi pintar yang sepertimu sepertinya akan banyak menyakiti orang seperti diriku ini, aku tidak ingin seperti itu.

Aku juga ingin pintar, tapi tak sepintar dirimu yang mampu menjadi raja dalam semua hal sehingga kau tak pernah mau berbaur dengan rakyat jelata.

Jika benar kamu memanglah pintar, tidakkah bisa kau gunakan kepintaran itu untuk mengetahui bagaimana perasaanku yang selalu kau rendahkan. Aku memang tidak bisa apa-apa, aku tidak bisa berbuat banyak sepertimu, tapi apakah Tuhan sekejam itu. Tidak, aku percaya Dia maha adil.

Hari ini dan sebelum-sebelumnya bolehlah aku terhina olehmu, aku biarkan saja kini kau menikmati kepintaranmu itu. Tunggulah hingga waktunya tiba, saat Tuhan berkehendak untuk membuatku tidak lagi terhina, setelah aku berhasil menjadi seseorang yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.

Biarkan nanti aku beli hinaanmu itu dengan uang recehku. Akan ada saatnya matamu terbelalak keheranan melihatku di hari nanti.

Terimakasih untuk puijianmu kepadaku karena itulah yang kini selalu terngiang dalam telingaku. Dia terus saja berteriak agar aku bisa bergerak lebih cepat dan membuktikannya kepadamu bahwa aku memanglah bodoh tapi aku tidak bodoh dalam berkata-kata dan bersikap seperti dirimu itu.

Tuhan maha adil, Dia memberi kita kesempatan yang sama. Aku bukanlah kamu begitupun kamu bukanlah aku, nikmati saja kepintaranmu itu hingga akhirnya kau sadar bahwa kepintaran yang diiringi kesombongan hanya akan membawa petaka.

Sampai jumpa orang pintar, sampai jumpa nanti saat aku benar-benar menjadi apa yang diriku mau karena aku yakin untuk bisa melakukannya. Silahkan saja kau terlena dengan kepintaranmu itu hingga kau sadar sudah tertinggal jauh oleh diriku yang dulu kau anggap bodoh.

Bukankah kita juga sering mendengar bagaimana kisah orang pintar yang ternyata tidak jadi apa-apa dan justru orang bodoh seperti diriku ini yang kemudian tampil sebagai tokoh. Kisah itu yang membuatku bertahan hingga hari ini untuk terus belajar dan belajar. Hahaa, aku percaya dan yakin bahwa kelak akulah yang menjadi tokoh utama dalam kisah semacam itu.

Semoga kelak kau masih mengingat betul siapa aku, dan siapa nanti dirimu itu.

Sampai jumpa orang pintar yang bodoh.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Buku | Aku Mendengarmu, Istanbul

Coba Berhenti Sekali Aja

Writer's Block : Antara Kenyataan dan Pembenaran [ sebuah pengakuan dosa ]