Warga negara Indonesia patut berbesar hati karena baru saja tanggal 11 Juli lalu seorang pemuda asal Lombok berhasil membawa mendali emas dari ajang lomba lari 100 M putra di tingkat dunia. Wow gila kan coy, luarbiasa hebatnya padahal dia sendiri bilang kalo ikut lomba ini hanya untuk menguji dirinya sebagai persiapan ASIAN Games 2018 nanti.
Ini merupakan waktu yang tepat untuk kita bertanya kepada diri sediri, “bagaimana dengan kamu, apakah sudah berhasil membuat prestasi?”
Bukan berarti kita harus melakukan hal yang sama dengan orang lain, karena pasti setiap dari kita punya bakat di bidang masing-masing dan melakukan sesuatu yang nyata dalam kehidupan yang hanya sekali ini.
Melihat sosok zohri pemuda yatim piatu yang berhasil menyabet mendali emas di ajang internasional yang berasal dari keluarga sederhana, bahkan bisa dikatakan tidak mampu aku menoleh dengan dalam pada diri ini.
Pertama, aku juga bukan orang yang kaya yang bisa berbuat sesuka hati atau membeli apapun untuk mewujudkan mimpi-mimpiku.
Kedua, aku juga seorang anak yang ditinggal selamanya oleh orangtua meski aku lebih beruntung karena masih bisa merasakan kasih sayang Ibu hingga detik ini.
Setidaknya itu dua persamaan dan ditambah usia aku yang juga baru 18 tahun sama seperti dia, semakin menjadi cambuk supaya aku tidak berhenti berusaha dan menjadi orang yang bisa berbuat untuk orang banyak.
Bukan hanya rumahnya yang sederhana, tapi kehidupannya memang begitu sangat sederhana. Rumah yang minim dengan perabot rumah tangga, bahkan Zohro kecil sering berkeliling kampung tanpa menggunakan alas kaki karena memang tidak mampu untuk membeli sandal.
Tapi ternyata itu gak jadi alasan untuk bisa mengukir prestasi dengan kakinya yang pernah berjalan tanpa alas, kini memberikan mendali emas dengan langkahnya yang kuat dan percaya diri.
Dari prestasi yang dia raih, aku sedikit mundur dan memutar arah ke zaman di mana aku sering mengikuti perlombaan tapi yang lebih sering aku dapatkan adalah kegagalan. Dan tetu itu jadi pelajaran berharga banget buat aku pribadi.
Guruku sering bilang kalo mungkin usaha mereka lebih keras daripada apa yang telah aku lakukan. Maka seharusnya untuk bisa mendapatkan juara, harus bisa berusaha berkali-kali lipat dari orang lain, mulai dari latihan sampe urusan berdo’a sama Allah.
Dan bukan hanya belajar dari pengalaman sendiri saja, pun juga harus bisa belajar dari pengalaman orang lain yang sudah lebih berpengalaman dan tahu untuk bisa sampai pada apa yang dituju.
Mengukir sejarah dan prestasi juga bukan hanya sebatas membawa pulang piala atau bentuk penghargaan lainnya untuk apa yang telah dilakukan. Menjadi orang yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan cara apapun yang bisa dilakukan-berbuat-adalah juga merupakan prestasi yang patut untuk dilakukan setiap orang.
Sebagai pemuda yang pedili dengan tanah air sendiri, kita bisa sama-sama beraksi nyata dari lapisan dan bidang yang bisa kita lakukan, maka perjuangan kita menjadi perekat aspek satu sama lain untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik.
Tentu saja, sebelum kisah ini banyak juga kisah-kisah hebat dari pemuda yang bisa menginspirasi. Katakanlah Muhammad Al-Fatih yang mampu menaklukan Konstantinopel dalam usianya yang baru 21 tahun atau kisah hebat lainnya yang bisa kita temukan dalam sejarah.
Dengan lahirnya pemuda-pemuda yang punya kesadaran yang tinggi dan rasa peduli terhadap bangsa dan negara ini, saya yakin Indonesia akan tampil menjadi negara maju karena kita-generasi milenial-pasti bisa melakukannya.
wah keren mas sangat menginspirasi sekali buat kaum muda
ReplyDeletesemoga nanti pada saatnya kita juga bisa memberikan prestasi dalam bidang masing-masing
DeleteMemang untuk sukses harus ada usaha yang gigih. Untuk atlet, menurut saya kesuksesan pasti berbanding lurus dengan latihan. Kesuksesan fisik kan susah dimanipulasi. Itulah sebabnya saya lebih respek atlet sukses dibandingkan artis atau pengusaha sukses.
ReplyDeletesetuju banget mbak
Delete